Selasa, 29 Desember 2020

Sebuah Refleksi Kondisi Kekinian Kepemudaan Indonesia

 

Revolusi Industri 4.0 adalah peluang besar bagi Indonesia untuk menjadikan dirinya sebagai bangsa yang tangguh, mandiri dan berdaya saing. Peluang bonus demografi yang ada di depan mata menjadi penting untuk diperhatikan, untuk mempersiapakan diri terutama generasi muda agar mampu menangkap momentum revolusi industri dan peluang bonus demografi beberapa waktu kedepan.

Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir ini sudah melakukan kajian terkait kepemudaan yang dirangkum dalam Statistik Pemuda Indonesia sebagai bahan informasi dan data untuk menunjang keberhasilan pembangunan kepemudaan. Statistik Pemuda Indonesia menyediakan data dan informasi kepemudaan dari berbagai dimensi mulai dari aspek demografi, pendidikan, kesejahteraan, ketenagakerjaan, kondisi sosial ekonomi, kesehatan reproduksi dan program kepemudaan.

Dalam publikasi tersebut, jumlah pemuda pada tahun 2019 sebesar 64,19 juta jiwa yang artinya 1 dari 4 penduduk Indonesia adalah pemuda. Terdapat 55,28 persen pemuda yang terkonsentrasi di pulau Jawa, dan 1 dari 10 pemuda adalah kepala rumah tangga. Pada aspek pendidikan, rata-rata lama sekolah pemuda di Indonesia sudah mencapai 10,63 tahun atau secara umum telah menyelesaikan pendidikan sampai pada kelas 10 Sekolah Menengah atau sederajat. Pemuda dengan penyandang disabilitas masih memiliki akses yang lebih kecil terhadap pendidikan. Sekitar 21,26 persen pemuda disabilitas tidak/belum pernah sekolah.

Pada aspek kesehatan, angka kesakitan pemuda menunjuk angka 8,78 persen. Dari 100 pemuda di Indonesia, sebanyak 21 orang pemuda mengalami keluhan kesehatan dan sebanyak 9 pemuda mengalami sakit. Upaya pengobatan pemuda yang mengalami keluhan kesehatan masih lebih besar dilakukan dengan cara pengobatan sendiri (75,24%) jika dibandikan dengan berobat jalan (40,42%). Pada tahun 2019 terdapat 5,03 persen pemuda yang pernah dirawat inap. Berdasarkan hasil Susenas 2019, terdapat 67,63 pemuda yang memiliki jaminan kesehatan dengan jenis jaminan kesehatan yang paling banyak diterima pemuda adalah Penerima Bantuan Iuran (PBI) sebesar 50,59 persen.

Aspek perilaku pemuda yang menjadi perhatian dalam statistik pemuda adalah perilaku merokok. Sebanyak 25,99 persen pemuda Indonesia adalah perokok. Persentase pemuda merokok paling tinggi terdapat pada pemuda tamatan SD/sederajat dan pemuda tidak tamat SD, berturut-turut sebesar 36,79 persen dan 34,95 persen. Pemuda di setiap kelompok umur menghabiskan rata-rata 7-12 batang rokok sehari, dengan persentase tertinggi pada kelompok umur 25-30 tahun.

Banyak aspek-aspek lain yang banyak digali dari publikasi Statistik Pemuda Indonesia tersebut. Titik tekan tulisan ini bukan untuk menguraikan hasil publikasi statistik, tetapi mencoba memahami pemanfaatan data dan informasi yang sudah dikumpulkan tersebut untuk keperluan pembangunan Kebijakan pembangunan kepemudaan oleh pemerintah dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi fokus tersendiri. Kesadaran pemerintah untuk menggunakan data dan informasi yang lengkap dan komprehensif untuk pelaksanaan pengambilan kebijakan kepemudaan perlu diikuti oleh pemerintah daerah.

Kebijakan pembangunan kepemudaan tidak dapat berjalan maksimal apabila tanpa peran serta pemerintah daerah. Pemerintah daerah yang lebih tahu kondisi, potensi, dan permasalahan pemuda di wilayahnya, sehingga kebijakan yang tepat sasaran dan berdampak bisa dilakukan. Pemanfaatan data dan informasi untuk mendukung proses pembangunan berkelanjukan sangat diperlukan agar kebijakan dan program dengan berbasis data dapat sesuai dengan kondisi dan keperluan masyakarat, bukan berdasar pada program rutin tahunan yang kurang berdampak signifikan. Revolusi industri 4.0 telah memaksa jalannya pemerintahan saat ini  untuk berkolaborasi dengan penggunaan teknologi dan data dalam setiap pengambilan kebijakannya.

Tulisan ini selesai dibuat pada tanggal 26 Desember 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar