Muhammad Chatib Basri
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia
”Inilah resesi ekonomi yang kita rancang sendiri”. Kalimat itu
disampaikan Gregory Mankiw dari Universitas Harvard dalam wawancaranya dengan
Michael Klein dari Universitas Tufts.
 |
| Sumber: Pexels.com |
Mankiw benar. Untuk mengatasi krisis ekonomi yang dipicu oleh
pandemi ini, secara sadar kita meminta, bahkan memaksa, agar orang, sebisa
mungkin, untuk tinggal di rumah. Inilah krisis yang memang kita rancang sendiri.
Namun, hal itu memang harus di lakukan untuk menghambat penularan.
Akibatnya, ekonomi melambat. Kita memang mulai melihat pembalikan
dan tanda-tanda pemulihan ekonomi. Optimisme juga muncul karena tersedianya
vaksin. Meski demikian, kita tetap harus mempersiapkan diri jika proses
vaksinasi memakan waktu. Penerapan protokol kesehatan dan penerapan metode tes,
lacak, dan isolasi tetap penting. Penanganan sektor kesehatan adalah kunci.
Pemulihan ekonomi akan bergantung pada kemampuan kita mengatasi pandemi. Dalam
kondisi seperti ini, bagaimana proses pemulihan ekonomi tahun 2021?
Tiga Pola Pemulihan
Ada tiga pola yang mungkin terjadi ke depan. Pertama, pola
pemulihan berbentuk swoosh shape (logo sepatu Nike), di mana pertumbuhan
ekonomi mencapai titik terendah pada triwulan kedua 2020, lalu mulai membaik
dan akan mencapai pertumbuhan positif, dalam triwulan pertama 2021. Pemulihan
ekonomi mungkin akan lebih cepat pada paruh kedua 2021. Asumsinya: pandemi tak
makin parah sehingga pemerintah harus memberlakukan lagi pembatasan sosial berskala
besar (PSBB).
Namun, pola pemulihan ekonomi tak tunggal sebenarnya. Kedua, dalam
konteks antarsektor dan kelompok pendapatan, pemulihan ekonomi mungkin akan berbentuk
K-shaped, sebuah istilah yang dipopulerkan Peter Atwater dari William and
Mary sekitar April 2020. Intinya: pemulihan akan berlangsung secara tidak merata,
ada yang naik ke atas dan ada yang turun ke bawah seperti huruf K. Sektor-sektor
yang membaik terutama yang berkaitan dengan perusahaan teknologi, kesehatan,
atau mereka yang memiliki tabungan. Namun, ada sektor yang ambruk, misalnya
UMKM, atau kelompok marjinal yang tak punya tabungan.
Ketiga, untuk sektor keuangan (pasar modal dan obligasi), kita
melihat pola pemulihan mungkin berbentuk V-shaped, di mana pemulihan
terjadi cepat. Pola inilah yang mungkin kita hadapi di 2021.
Untuk melihat hal itu lebih dalam, mungkin ada beberapa hal yang
harus diperhatikan. Pertama, lebih dari 80 tahun lalu, pada bulan Desember yang
dingin di Cambridge, John Maynard Keynes, ekonom terbesar pada abad ke-20, memperkenalkan
sebuah konsep sederhana: average propensity to consume (APC) atau
rata-rata konsumsi terhadap total pendapatan. Ia percaya tabungan adalah barang
mewah. Implikasinya, kelompok kaya akan memiliki rasio tabungan terhadap
pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok miskin.
Dengan kata lain, jika pendapatan semakin meningkat, porsi tabungan
terhadap total pendapatan akan meningkat. Implikasinya, porsi konsumsi akan menurun
ketika pendapatan meningkat. Survei Bank Indonesia membenarkan Keynes: kelompok
pengeluaran (sebagai proksi pendapatan) di bawah Rp 3 juta memiliki rata-rata
porsi konsumsi 69 persen terhadap total pendapatan (Oktober 2020). Adapun porsi
konsumsi terhadap total pendapatan untuk kelompok dengan pengeluaranRp 5 juta
ke atas adalah 66 persen.
Observasi yang lebih rinci menunjukkan penurunan porsi tabungan terhadap
total pendapatan yang paling dalam terjadi pada kelompok pengeluaran Rp 3 juta
ke bawah. Pendapatan mereka anjlok sehingga harus menguras tabungannya.
Bagaimana dengan kelompok menengah atas (pengeluaran Rp 5 juta ke atas)? Rasio
tabungan terhadap total pendapatan justru meningkat hampir 8 persen. Kelompok
ini mengurangi konsumsi barang non-esensialnya—karena banyak aktivitas dari
rumah—sehingga porsi tabungan pun naik.
Ini menjelaskan mengapa dana pihak ketiga (DPK) di perbankan
mengalami peningkatan. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan pertumbuhan
DPK tertinggi terjadi pada kelompok tabungan Rp 5 miliar ke atas. Disini ada
potensi masalah ketimpangan pendapatan. Kelompok menengah atas mungkin akan
mampu keluar dari krisis ini. Mereka punya tabungan dan memiliki akses digital.
Di sisi lain, kesejahteraan kelas menengah bawah berisiko terus menurun akibat
tabungan yang terkuras dan terbatasnya akses digital. Implikasi dari kondisi
ini, muncul K-shaped recovery pasca-Covid-19.
Kedua, studi dari Office of Chief Economist (OCE) Bank Mandiri
menunjukkan, sampai dengan November nilai belanja kelompok menengah atas berada
di bawah kondisi prapandemi. Adapun indeks belanja kelompok bawah sudah kembali
ke kondisi pra-Covid-19. Artinya, yang berbelanja justru kelompok bawah.
Mengapa kelas menengah atas masih menahan belanjanya? Bank Dunia dalam
laporannya, Aspiring Indonesia: Expanding Middle Class, menunjukkan
kelompok dengan pengeluaran di atas Rp 6 juta per bulan adalah konsumen utama
untuk hiburan, rumah, dan barang tahan lama. Kita tahu, dalam pandemi,
aktivitas hiburan terhenti karena protokol kesehatan.
Konsisten dengan ini, OCE Bank Mandiri menunjukkan bahwa di Jawa, indeks
belanja terendah per akhir November 2020 adalah travel, entertainment, dan
airlines. Inilah yang menjelaskan mengapa penurunan belanja kelas menengah
atas lebih tajam daripada kelas menengah bawah. Apakah kelas menengah atas
mengurangi konsumsinya karena kesadaran akan kesehatan? Belum tentu.
Konsumsinya berkurang karena aktivitas hiburan praktis terhenti akibat protokol
kesehatan. Implikasinya, selama masalah kesehatan belum teratasi, belanja kelas
menegah atas akan tertahan.
Memang benar kelas menengah atas lalu mencari aktivitas penggantinya,
misalnya dengan membeli barang-barang hobi, seperti sepeda, ikan hias, tanaman hias,
dan barang-barang koleksi. OCE Bank Mandiri menunjukkan indeks belanja barang
hobi saat ini bahkan di atas masa pra-Covid-19. Ada kenaikan tajam di sana,
tetapi belanja hobi belum mampu menggantikan belanja entertainment, travel,
dan sebagainya.
Ketiga, perhitungan awal dengan menggunakan metode kuantitatif yang
saya lakukan menunjukkan adanya perbedaan perilaku dari kelompok pengeluaran di
atas Rp 5 juta ke atas dengan kelompok pengeluaran Rp 3 juta kebawah dalam hal
ekspektasi penghasilan ke depan dan mobilitas. Saya sadar ada keterbatasan
data, karena itu hasil perhitungan ini harus diinterpretasi secara hati-hati.
Setelah data tersedia lebih baik, ke depan perlu dilakukan studi yang lebih
dalam dengan metodologi yang lebih baik. Namun, sebagai indikasi awal, ia
membantu kita untuk menjelaskan perilaku pelaku ekonomi saat ini.
Temuan ini menunjukkan, untuk kelompok pengeluaran di atas Rp 5
juta ke atas, keputusan untuk keluar atau tinggal di rumah tidak dipengaruhi
oleh ekspektasi penghasilan ke depan (Indeks Ekspektasi Penghasilan/IEP dari
BI).Alasannya mungkin karena mereka memiliki cukup tabungan. Karena itu,
kelompok ini memiliki kemewahan untuk memilih tinggal atau keluar rumah.
Bagaimana dengan kelompok pengeluaran Rp 3 juta ke bawah? Temuan
saya menunjukkan ketika ekspektasi penghasilan menurun, mobilitas orang keluar rumah
meningkat. Sebaliknya, ketika mobilitas keluar rumah naik, ekspektasi penghasilanuntuk
kelompok penghasilan kurang dari Rp 3 juta juga naik. Temuan awal ini mendukung
argumen yang pernah saya sampaikan sebelumnya: kelas menengah bawah tak
memiliki cukup tabungan untuk tinggal di rumah dalam waktu lama.
Ketika ekspektasi penghasilannya menurun, ia harus keluar rumah
untuk mencari uang. Itu sebabnya, PSBB bisa berpihak kepada kelompok menengah atas
apabila pemerintah tidak menye- diakan bantuan sosial (bansos) dalam bentuk
bantuan langsung tunai (BLT) kepada kelompok menengah bawah.
Keempat, saya pernah menulis di harian Kompas (11/11/2020), bahwa
selama protokol kesehatan masih diterapkan karena pandemi belum berakhir,
ekonomi tak bisa beroperasi 100 persen. Implikasinya, jika skala ekonomis tak
terpenuhi, perusahaan akan enggan menambah investasi baru karena berisiko merugi.
Perhitungan awal yang saya lakukan memperkuat indikasi itu: ada hubungan yang kuat
antara kapasitas terpasang dan mobilitas. Semakin tinggi orang yang tinggal di
rumah, semakin rendah kapasitas produksi yang digunakan. Dan semakin rendah
kapasitas produksi yang digunakan, semakin rendah pula tambahan investasi. Implikasinya,
investasi belum akan meningkat jika mobilitas belum kembali normal.
Stimulus Fiskal Agresif
Kelima, dengan kondisi seperti ini, pemulihan ekonomi pada tahun
2021 tampaknya masih akan bergantung pada pengeluaranpemerintah, khususnya bansos.
Sejak awal saya menyampaikan bahwa sebaiknya bansos diberikan dalam bentuk BLT.
Preferensi dan kebutuhan setiap rumah tangga berbeda, karena itu ia tak bisa
diseragamkan dalam bentuk bantuan natura seperti sembako.
Pemerintah harus memberikan bantuan yang sifatnya fleksibel. BLT
memberikan fleksibilitas bagi penerimanya. Peraih Nobel Ekonomi Milton Friedman
menyatakan bahwa bantuan tunai lebih unggul daripada bantuan natura. Alasannya,
biayanya lebih murah; bantuan tunai lebih bermanfaat bagi kelompok miskin karena
memberikan kebebasan kepada orang untuk menentukan apa yang ia butuhkan; dan
bantuan tunai memotong rantai birokrasi sehingga risiko kebocoran bisa lebih
kecil. Itu sebabnya, desain bansos akan sangat menentukan efektivitasnya bagi
kelompok menengah bawah.
Dalam kaitan kebijakan fiskal ini, risiko K-shaped recovery
menuntut pemerintah untuk merancang kebijakan fiskal agar lebih berpihak kepada
pemerataan, misalnya dengan memberikan prioritas kepada infrastruktur dan
literasi digital untuk mengatasi ketimpangan digital; investasi dalam
pendidikan dan vokasi untuk meningkatkan keterampilan dan melatih ulang keterampilan;
akses kesehatan terutama yang berkaitan dengan vaksin Covid-19; dan perbaikan
sistem perlindungan sosial.
Keenam, proyeksi pemerintah dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok
Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2021 menunjukkan bahwa penerimaan perpajakan akan
berada pada kisaran 8,4-9,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun
2023. Padahal, seperti saya bahas di atas, kita membutuhkan stimulus fiskal
yang agresif untuk pemulihan ekonomi. Implikasinya, defisit anggaran meningkat.
Saya paham bahwa ada risiko utang akan meningkat. Namun, tema dari
kebijakan fiskal di seluruh dunia saat ini untuk mengatasi Covid-19 adalah ”whatever
it takes”. Kita tahu, Undang-Undang No 2 Tahun 2020 menyatakan bahwa
defisit APBN harus kembali berada di bawah3persen pada 2023. Untuk mencapai
target defisit anggaran di bawah 3 persen pada 2023, pemerintah harus mulai
menurunkan defisit anggarannya pada 2022.
Saya menyarankan agar pemerintah melakukan hal ini dengan
hati-hati. Jika pengetatan dilakukan terlalu cepat dan drastis, ada risiko
terjadi kontraksi. Jika pemulihan ekonomi berjalan lambat akibat terbatasnya
ekspansi fiskal, rasio utang terhadap PDB justru tak akan menurun karena pertumbuhan
PDB-nya lemah. Dalam kondisi ini, upaya untuk perbaikan penerimaan pajak dengan
melakukan reformasi dalam hal administrasi perpajakan menjadi penting. Selain
itu, perbaikan kualitas belanja bahwa alokasi anggaran dilakukan ke sektor
produktif menjadi amat penting.
Pada
2021 ada harapan pemulihan ekonomi akan terjadi. Pertanyaannya:seberapa cepat
itu terjadi, dan apakah pemulihan itu akan membawa kita pada struktur ekonomi
yang lebih baik? Itu akan tergantung kemampuan kita dalam mengatasi pandemi. Tanpa
itu, kita dipaksa untuk terus berkutat dengan resesi yang kita rancang sendiri,
akibat keharusan penerapan PSBB atau protokol kesehatan. Penanganan kesehatan adalah
kunci. Saya jadi ingat ucapan Mankiw dalam wawancaranya: krisis ekonomi saat
ini lebih membutuhkan ahli mikrobiologi ketimbang ekonom. Ia tentu berlebihan. Mengatasi
pandemic adalah tugas kita semua. Namun, ada kebenaran dalam ucapannya.
Sumber artikel: Koran Kompas edisi 16 Desember 2020