Selasa, 03 Oktober 2017

Menulis

Berapa banyak orang menjadi mashur karena menulis. Berapa banyak juga orang yang tersungkur karena menulis. Menulis seperti sebuah kata kerja ajaib yang bagi sebagian orang bisa mengubah jalan hidupnya. Jalan hidup yang awalnya kurang kaya menjadi kaya. Jalan hidup yang awalnya gelap menjadi terang. Jalan hidup yang awalnya berantakan, menjadi tertata. Kaya tidak harus dimaknai sebagai kaya harta. Kesehatan, kebahagiaan, ketenangan, ketentraman merupakan bagian kecil kekayaan tuhan yang dianugerahkan.

Menulis adalah kata kerja, apabila dilakukan menghasilkan suatu kata yang juga berasal dari kata dasar yang sama. Menulis akan menghasilkan “tulis”an. Juga sama seperti kata memasak, akan menghasilkan “masak”kan. Berbeda dengan kata memakan, tidak akan menghasilkan “makan”an, tetapi justru menghabiskan makanan. Begitu pula dengan meminum.

Peradaban dunia berkembang salah satu jasa dari tulisan tokoh, ilmuan, ulama, manusia terdahulu. Menjadi barang wajib ketika seseorang menempuh jenjang S-1, maka harus menghasilkan tulisan. Jika tidak, maka belum bisa dikatakan “lulus” sebagai sarjana.

Menulis adalah pilihan. Pilihan apakah apa yang ada difikirannya mau direkam atau hanya sebatas lewat dengan jalan lisan. Bagi pemula seperti saya, tak harus belajar diksi yang tepat, cara membentuk S-P-O-K, bentuk tulisan apakah naratif atau deskriptif dan sebagainya. Menulis adalah soal pilihan dan keberanian. Berani mengalahkan segala kemalasan, ego, ketidakpercayaan diri, malu, dan hawa negatif lainnya yang menghambat. Mungkin kalau saya tunduk pada hawa-hawa itu, tulisan ini tidak pernah rampung.


Biarlah tulisan ini sebagai pembuka jalan. Biarlah tulisan ini menjadi pencatat diri yang kurang  akan pengalaman. Pada waktunya biarkan tulisan ini menjadi kenangan sejarah diri yang rindu perbaikan. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar