Berapa banyak
orang menjadi mashur karena menulis. Berapa banyak juga orang yang tersungkur
karena menulis. Menulis seperti sebuah kata kerja ajaib yang bagi sebagian orang bisa
mengubah jalan hidupnya. Jalan hidup yang awalnya kurang kaya menjadi kaya.
Jalan hidup yang awalnya gelap menjadi terang. Jalan hidup yang awalnya
berantakan, menjadi tertata. Kaya tidak harus dimaknai sebagai kaya harta.
Kesehatan, kebahagiaan, ketenangan, ketentraman merupakan bagian kecil kekayaan
tuhan yang dianugerahkan.
Menulis adalah
kata kerja, apabila dilakukan menghasilkan suatu kata yang juga berasal dari
kata dasar yang sama. Menulis akan menghasilkan “tulis”an. Juga sama seperti
kata memasak, akan menghasilkan “masak”kan. Berbeda dengan kata memakan, tidak
akan menghasilkan “makan”an, tetapi justru menghabiskan makanan. Begitu pula
dengan meminum.
Peradaban dunia
berkembang salah satu jasa dari tulisan tokoh, ilmuan, ulama, manusia
terdahulu. Menjadi barang wajib ketika seseorang menempuh jenjang S-1, maka
harus menghasilkan tulisan. Jika tidak, maka belum bisa dikatakan “lulus”
sebagai sarjana.
Menulis adalah
pilihan. Pilihan apakah apa yang ada difikirannya mau direkam atau hanya
sebatas lewat dengan jalan lisan. Bagi pemula seperti saya, tak harus belajar
diksi yang tepat, cara membentuk S-P-O-K, bentuk tulisan apakah naratif atau
deskriptif dan sebagainya. Menulis adalah soal pilihan dan keberanian. Berani
mengalahkan segala kemalasan, ego, ketidakpercayaan diri, malu, dan hawa negatif lainnya yang menghambat. Mungkin kalau saya tunduk pada hawa-hawa itu, tulisan
ini tidak pernah rampung.
Biarlah tulisan
ini sebagai pembuka jalan. Biarlah tulisan ini menjadi pencatat diri yang
kurang akan pengalaman. Pada waktunya biarkan
tulisan ini menjadi kenangan sejarah diri yang rindu perbaikan. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar